
Tenggarong — Di salah satu sudut Kutai Kartanegara, ada banyak kisah yang berawal dari keinginan sederhana: bisa membaca, bisa menulis, bisa lulus sekolah meski usia tak lagi muda. Namun, tak semua keinginan itu tumbuh menjadi kenyataan. Banyak di antaranya padam di tengah jalan, kalah oleh waktu dan rasa enggan untuk memulai kembali.
Itulah tantangan terbesar yang kini dihadapi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Kutai Kartanegara. Pemerintah daerah sudah menyiapkan beragam fasilitas pendidikan nonformal—dari 19 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) hingga 11 Sanggar Kegiatan Belajar (SKB)—namun masih harus berhadapan dengan satu hal yang paling sulit diubah: motivasi masyarakat untuk belajar kembali.
“Fasilitas sudah ada, program sudah berjalan, tapi semangat belajar masyarakat masih rendah,” tutur Plt Sekretaris Disdikbud Kukar, Pujianto, saat ditemui di Tenggarong.
Menurutnya, banyak warga yang sebenarnya memiliki kesempatan besar untuk menempuh pendidikan kesetaraan. Namun, rasa malu, kesibukan mencari nafkah, atau anggapan bahwa sekolah tak lagi penting di usia dewasa, membuat mereka ragu melangkah.
Padahal, pendidikan nonformal tak menuntut seragam atau ruang kelas kaku. “Sistemnya lebih fleksibel, disesuaikan dengan waktu dan kondisi sosial masyarakat. Tapi tanpa dorongan dari diri sendiri, manfaatnya tak akan optimal,” tambah Pujianto.
Meski begitu, pemerintah tak tinggal diam. Melalui bantuan operasional, subsidi honor tutor, hingga pelatihan keterampilan bagi lulusan paket A, B, dan C, Pemkab Kukar berusaha memastikan pendidikan nonformal bukan hanya soal mendapatkan ijazah, tetapi juga membuka peluang hidup yang lebih baik.
“Yang terpenting bukan selembar kertas, tapi kemampuan untuk mandiri,” tegasnya.
Untuk memperkuat langkah itu, Disdikbud juga menjalin sinergi dengan pemerintah desa, kecamatan, hingga Kementerian Agama, agar lebih banyak warga mendapat pendampingan dan dukungan moral untuk kembali belajar.
Upaya ini bukan sekadar tentang menuntaskan angka partisipasi pendidikan. Lebih dari itu, ia adalah perjuangan menyalakan kembali semangat yang sempat redup — semangat untuk percaya bahwa tak ada kata terlambat untuk belajar, dan tak ada usia yang membatasi seseorang untuk memperbaiki masa depan. (adv)


