
SANGATTA-Suasana Ballroom Hotel Grand Royal Victoria, Senin siang (26/1/2026), terasa berbeda. Bukan sekadar seremoni politik, tetapi juga penuh optimisme dan semangat kebersamaan. Di tempat itulah Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) Kutai Timur periode 2025–2030 resmi dilantik—menandai dimulainya perjalanan baru partai tersebut di daerah.
Di tengah tepuk tangan para kader, nama Sumarno diumumkan sebagai Ketua DPC Hanura Kutai Timur. Bagi Sumarno, pelantikan ini bukan tentang jabatan, melainkan tentang tanggung jawab dan harapan masyarakat yang harus diperjuangkan.
“Ini bukan hanya soal pelantikan,” ucapnya dengan nada mantap. “Ini adalah awal dari kerja nyata. Hanura harus hadir di tengah masyarakat, mendengar, dan berjuang bersama rakyat Kutai Timur.”
Sumarno memahami betul bahwa kekuatan partai tidak lahir dari baliho atau slogan, tetapi dari kedekatan dengan warga. Ia ingin Hanura menjadi rumah yang terbuka—tempat masyarakat menitipkan aspirasi, keluhan, bahkan harapan akan perubahan.
“Kekuatan partai ada pada manusianya. Kalau kader mau turun, mau bekerja sosial, mau hadir saat masyarakat butuh, di situlah kepercayaan tumbuh,” katanya.
Di hadapan pengurus dan kader, Sumarno juga menyampaikan target yang jelas: Hanura Kutai Timur harus mampu menembus parlemen daerah dan membentuk satu fraksi di DPRD. Target itu bukan mimpi kosong, melainkan cita-cita yang ingin dicapai lewat kerja kolektif dan disiplin organisasi.
“Kalau kita solid, kita kuat. Kalau kita kompak, semua pekerjaan—baik politik maupun sosial—akan lebih ringan,” ujarnya.
Acara pelantikan berlangsung tertib dan penuh keakraban. Para kader saling bersalaman, berbagi cerita, dan menyatukan tekad menghadapi lima tahun ke depan. Momentum tersebut menjadi ruang konsolidasi, sekaligus penyegaran semangat bahwa politik juga bisa dijalankan dengan hati nurani.
Dengan kepengurusan baru ini, Hanura Kutai Timur menegaskan fokus pada penguatan struktur hingga akar rumput, peningkatan kualitas kader, serta memperluas kerja-kerja sosial kemasyarakatan.
“Kami ingin masyarakat menilai Hanura bukan dari janji, tapi dari kerja dan keberpihakan,” tutup Sumarno.
Di Kutai Timur, Hanura kini melangkah dengan harapan baru—berjalan lebih dekat dengan rakyat, dan tumbuh bersama mereka. (bud)



