TAS Tenggarong Kian Sepi, DPRD Khawatir Banyak Kios Tutup hingga Akhir 2026

TENGGARONG – Aktivitas perdagangan di kawasan Tangga Arung Square (TAS) Tenggarong belum menunjukkan tanda-tanda membaik. Lesunya transaksi membuat sejumlah kios mulai gulung tikar, sementara pedagang yang masih bertahan harus menghadapi penurunan omzet dari bulan ke bulan.

Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa jumlah kios yang tutup akan terus bertambah apabila tidak ada langkah strategis untuk meningkatkan kunjungan masyarakat ke pasar semi modern tersebut.

Anggota DPRD Kutai Kartanegara dari Daerah Pemilihan Tenggarong, Akbar Haka, menilai situasi TAS semakin memprihatinkan. Menurutnya, jika kondisi saat ini dibiarkan tanpa terobosan, kawasan perdagangan itu berpotensi semakin sepi hingga akhir 2026.

“Kalau kondisinya tetap seperti sekarang, saya khawatir semakin banyak pedagang yang menutup kiosnya dan TAS akan semakin kehilangan aktivitas perdagangan,” ujarnya belum lama ini usai RDP dengan pedagang pasar.

Akbar menilai salah satu faktor utama rendahnya kunjungan masyarakat adalah pemisahan antara pasar basah dan pasar kering. Menurutnya, konsep tersebut membuat masyarakat tidak memiliki kebutuhan untuk datang secara rutin ke TAS.

Ia mengusulkan agar aktivitas pasar basah, seperti penjualan ikan, sayur-mayur, daging, dan kebutuhan pokok lainnya, dipadukan dengan pasar kering sehingga mampu menciptakan pusat belanja yang lebih hidup.

“Kalau orang datang membeli ikan atau sayur, mereka bisa sekalian membeli pakaian atau kebutuhan lainnya. Arus pengunjung akan lebih besar. Yang terpenting adalah pengelolaannya dilakukan secara profesional,” katanya.

Kondisi lesunya perdagangan juga dirasakan langsung para pelaku usaha. Salah seorang pedagang makanan ringan di TAS, Riski, mengaku pendapatan usahanya terus merosot dibandingkan saat kawasan tersebut mulai beroperasi pada awal 2026.

Kala itu, ia masih mampu memperoleh keuntungan bersih sekitar Rp2 juta setiap bulan. Namun kini, untuk mencapai laba bersih Rp1 juta per bulan pun menjadi tantangan.

“Sekarang dapat keuntungan bersih Rp1 juta sebulan saja sudah cukup berat,” ungkapnya.

Di sisi lain, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutai Kartanegara, Sayid Fathullah, menegaskan bahwa pemisahan pasar basah dan pasar semi modern merupakan bagian dari konsep penataan kawasan perdagangan yang sejak awal telah dirancang pemerintah daerah.

Menurutnya, aktivitas perdagangan bahan pangan memang dipusatkan di Pasar Gerbang Raja Mangkurawang, sedangkan TAS difungsikan sebagai pasar semi modern yang berfokus pada komoditas nonpangan.

Ia menilai sepinya TAS tidak semata-mata dipengaruhi konsep penataan pasar, melainkan juga kondisi ekonomi masyarakat yang sedang melambat.

Sayid menjelaskan, sebagian besar masyarakat Tenggarong bergantung pada sektor pemerintahan. Karena itu, kebijakan efisiensi anggaran yang diterapkan pemerintah pusat turut memengaruhi daya beli masyarakat.

“Perhitungan kami, ketika pendapatan masyarakat kembali meningkat, maka aktivitas perdagangan di TAS juga akan ikut tumbuh dan transaksi jual beli akan kembali ramai,” pungkasnya.

Avatar photo

Reporter Prespektif

Reporter Perspektif.info

Penulis Perspektif.info yang berfokus pada perkembangan daerah di Kalimantan Timur, mulai dari kebijakan pemerintah hingga dinamika sosial masyarakat.