Tumbuh di Atas Bank Konvensional, Aset Perbankan Syariah Catat Pertumbuhan Double Digit

JAKARTA – Pemerintah akan menyalurkan dana Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp15 triliun melalui Bank Syariah Indonesia (BSI) pada tahun 2026. Kebijakan ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dari 5,1 persen menjadi 6,1 persen.
Hal tersebut disampaikan Senior Executive Vice President (SEVP) Human Capital PT BSI, Firman Jatnika, dalam acara Uji Kompetensi Wartawan yang digelar di Aula Gedung Dakwah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DKI Jakarta, Sabtu (31/1).
Firman menjelaskan, selama ini pemerintah menyalurkan dana KUR melalui berbagai bank, salah satunya Bank Syariah Indonesia. Penyaluran dana KUR ini ditujukan untuk membantu pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar dapat meningkatkan kapasitas usaha dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
“Untuk tahun 2026 ini, pemerintah akan memberikan kepada Bank BSI agar ekonomi bisa meningkat dari 5,1 persen menjadi 6,1 persen,” ujar Firman yang juga pernah menjadi dosen tamu di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Muhamadiyah Jakarta.
Dalam sesi tanya jawab, peserta juga mempertanyakan pengelolaan dana haji yang selama ini mengendap di perbankan. Firman menegaskan bahwa dana haji tersebut akan dikelola dengan baik oleh BSI sesuai ketentuan yang berlaku.
“Pemerintah berharap penyaluran KUR melalui BSI dapat memberikan dampak signifikan terhadap penguatan sektor UMKM serta mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026,” ujarnya saat press realease.
Tumbuh Double Digit
Disisi lain lanjutnya perbankan syariah di Indonesia menunjukkan performa yang signifikan dengan mencatatkan pertumbuhan aset hingga dua digit (double digit). Capaian ini diklaim melampaui rata-rata pertumbuhan yang dialami oleh perbankan konvensional di periode yang sama.
Dalam sebuah pemaparan di hadapan awak media, perwakilan manajemen menekankan bahwa kenaikan ini didukung oleh pengelolaan kualitas aset yang jauh lebih stabil dan objektif.
“Pertumbuhan aset perbankan syariah (BSI) tumbuh double digit dan kita bisa tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan bank konvensional. Pengelolaan kualitas aset kita juga sudah jauh lebih bagus dibandingkan sebelumnya,” ujarnya.
Salah satu indikator kesehatan bank yang disorot adalah angka Cost of Credit (CoC) yang kini berada di bawah 1%. Selain itu, rasio pembiayaan bermasalah atau Non-Performing Financing (NPF) juga berhasil ditekan hingga di bawah 2%.
Efisiensi dan kualitas aset ini menempatkan performa bank syariah tersebut pada posisi kompetitif di tingkat nasional, hanya terpaut tipis dari bank peringkat pertama di Indonesia dalam hal kualitas aset.
Disiplin Risiko dan Kontribusi Sosial
Keberhasilan ini disebut sebagai buah dari disiplin ketat terhadap kriteria penerimaan risiko (risk acceptance criteria). Manajemen menegaskan bahwa mitigasi risiko yang baik adalah kunci agar perbankan bisa terus tumbuh dan berkontribusi kepada masyarakat.
“Kami konsisten masuk ke usaha-usaha yang memiliki potensi risiko kecil. Ada yang disebut dengan business case, di mana perusahaan harus unggul dan memiliki kinerja bagus sebelum bisa berkontribusi terhadap umat,” tambahnya.
Mengenai kemitraan selama ini, sinergi antara perbankan syariah dengan lembaga besar seperti Muhammadiyah telah membuahkan berbagai fasilitas publik, mulai dari pembangunan sekolah, SMA, hingga universitas dan rumah sakit di wilayah Jakarta dan Surabaya.
“Pihak manajemen mengajak para pemangku kepentingan untuk terus berkolaborasi dalam memberikan informasi yang edukatif kepada masyarakat guna memperkuat ekosistem ekonomi syariah di Indonesia,” tuturnya.
BSI Optimistis Tatap 2026, Targetkan Posisi 5 Besar Bank Nasional
Berdasarkan kinerja terbaru, BSI menunjukkan resiliensi yang signifikan dengan pertumbuhan dana pihak ketiga yang jauh melampaui rata-rata industri.
”Jika perbankan nasional tumbuh di angka 11,48%, BSI mampu mencatatkan pertumbuhan di atas 20%,” ujar Firman Jatmika.
Kinerja Keuangan Melaju Pesat
Saat ini, BSI mengukuhkan posisinya sebagai pemain utama dalam struktur pasar perbankan Indonesia yang cenderung oligopolistik. Dari sisi aset, BSI kini menempati urutan ke-6 secara nasional, sementara dari sisi perolehan laba, BSI telah berhasil menembus posisi ke-5. Indikator kesehatan keuangan perusahaan juga menunjukkan angka yang impresif: Return on Equity (ROE): Mencapai 16,85%, melampaui target yang ditetapkan.
Return on Assets (ROA): Sudah melewati angka 2%
Kualitas Pembiayaan: Rasio kredit bermasalah terjaga rendah di angka 0,8%. Strategi Ekosistem Islam dan Bisnis Emas
Untuk menjaga momentum pertumbuhan, BSI fokus pada kolaborasi dalam Islamic Ecosystem, terutama pada sektor-sektor yang tahan krisis seperti pendidikan, kesehatan, dan industri halal.
“Salah satu terobosan besar adalah penguatan posisi BSI sebagai Bullion Bank. Saat ini, BSI bersama Pegadaian menjadi institusi yang memiliki lisensi untuk masuk ke ekosistem bisnis emas secara masif. Strategi ini diharapkan mampu memberikan akses investasi yang lebih aman bagi masyarakat, termasuk guru dan dai.”
Ekspansi Global dan Layanan Haji
BSI juga memperkuat jangkauan internasionalnya untuk mendukung ekosistem haji dan umrah. Setelah sukses membuka cabang di Dubai, BSI berencana segera meresmikan kantor cabang di Jeddah, Arab Saudi.
”Ekspansi ini adalah langkah strategis kami bersama pemerintah dan BPKH untuk memberikan akses yang lebih luas bagi jamaah haji Indonesia serta memperkuat konektivitas ekosistem syariah global,” tutup Firman. (kaz)



